Pendoktoran Dosen UHN Medan Akan Terus Kita Pacu

Kita akan terus memacu dosen UHN bagaimana supaya mayoritas dosen UHN bisa meraih jenjang tertinggi pendidikannya, yaitu S3 (Doktor), atau Pendoktoran Dosen UHN akan terus kita lakukan dengan berbagai upaya, tegas Dr. Haposan Siallagan SH, MH Rektor Universitas HKBP Nommensen Medan pada sidang terbuka salah satu dosen FKIP UHN atas nama  Sarma Panggabean di Ruang IMT. GT USU, (17/01/2019). Adapun judul disertasi Dr. Sarma Panggabean adalah Konstruksi Wacana Pemeriksaan Tersangka: Kajian Linguistik Forensik lulus dengan pujian dan lama studi 3,5 Tahun. Sarma Panggabean merupakan Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia  FKIP UHN Medan dan mendapatkan beasiswa  dari BPPDN.

Rektor UHN Medan Dr. Haposan Siallagan SH, MH memberikan apresiasi yang sangat besar kepada Dr. Sarma Panggabean, S.Pd, M.Si karena mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan kita akan terus  memotivasi semua dosen yang sedang S3 agar cepat selesai sehingga dosen Tetap di lingkungan UHN bisa mayoritas bergelar Doktor, harap Dr. Haposan dengan optimis. Dr. Sarma Panggabean, S.Pd, M.Si  ketika mempertahankan Disertasinya di depan para promotor dan penguji seperti Prof. T. Silvana Sinar, MA, PhD (Promotor dari USU), Susanto, MA, PhD UBL Lampung), Dr. Eddy Setia M.Ed (USU), Prof. Amrin Saragih, MA, PhD, Dr. Mulyadi, M.Hum, Dr. Dwi Widayati, M.Hum, dan Dr. Sawirman, M.Hum (UNAND Andalas Padang) mengatakan bahwa Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang  menginvestigasi dan mendeskripsikan suatu fenomena yang faktual dan akurat.

Sarma Panggabean menegaskan bahwa dalam pendeskripsian fenomena, kualitatif deskriptif digunakan sebagai acuan utama dalam konteks kasus wacana, bukan hanya beriorientasi interpretatif tetapi juga mampu membaca interogasi teks (textual interrogation), logika wacana, perilaku wacana, dan fakta teoretis untuk mengungkap sebuah kebenaran dalam rentang objektivitas yang memadai (lihat Miles, 2014; bd Sudaryanto, 2015).Masalah yang diteliti ialah (1) tipe pertanyaan apa sajakah yang diterapkan penyidik dalam interogasi tersangka; (2) bagaimanakah praanggapan penyidik dalam interogasi tersangka; (3) bagaimanakah evaluasi bahasa penyidik dalam interogasi tersangka; (4) mengapa profilisasi wacana forensik dikonstruksikan demikian dalam pemeriksaan tersangka. Data utama dalam penelitian ini berupa pola-pola tuturan/kalimat dalam pertanyaan pada proses interogasi penyidik. Tuturan bersumber dari dua orang penyidik dengan masing-masing perangkat terperiksa tersangka.

Ketersediaan data tersebut dihimpun menggunakan metode simak dan metode cakap (lihat Sudaryanto 2015). Dalam metode simak, digunakan teknik sadap dengan menggunakan alat rekam, yang diketahui oleh penyidik dan terperiksa. Dalam metode cakap, digunakan teknik pancing atau teknik stimulasi yang berpotensi menghadirkan fenomena lingual yang sedang diamati yang berkesesuain dengan parameter yang diusung. Penelitian ini juga didukung dengan aplikasi program perangkat SCP (Simple Concordance Program) versi 4,09. Analisis data dalam kajian ini melibatkan metode Padan dan metode Agih (Sudaryanto, 2015: 15). Dalam pengkonkretisasian metode Padan dipergunakan teknik dasar dan teknik lanjutan.

Berdasarkan jejaring sistem, diperoleh 52 potensi konstruksi wacana forensik; dari potensi konstruksi wacana forensik tersebut, ditemukan 40 potensi profil yang muncul; 12 potensi tidak muncul. Melalui proporsi konstruksi sebanyak 44 kemunculan (6%) ditemukan kecenderungan dalam proses pemeriksaan tersangka, yakni Tbk?L?Afk; penyidik dominan menggunakan konstruksi tersebut, tegas Dr. Sarma Panggabean lagi. Hadir dalam sidang terbuka ini para dosen FKIP seperti WD III Dr. Efron Manik, M.Si, Dra. Elza Saragih, M.Hum, Drs. Eden A Sitompul, M.Pd, dan juga dosen FT UHN yang sedang S3 di USU Ir. Timbang Pangaribuan, MT. 

.